Begini Cara Saya Melawan Sajak-Sajak Chairil

Sajak Chairil

PENGANTAR:  Sajak-sajak berikut ini adalah sajak yang saya tulis dengan modus membalikkan atau melawan apa yang ingin diucapkan dalam sajak-sajak Chairil Anwar. Silakan baca dan temukan sajak  Chairil mana yang saya jadikan landasan sajak-sajak saya ini.  Buat saya inilah cara saya memaksa diri saya sendiri untuk membaca (lagi) sajak Chairil dengan lebih intens.  Dan saya bahagia dan gembira karenanya.

Selamat membaca!

1. Penangkapan Diponegoro 

Kuda yang habis ringkik, menerjang ke kosong,

terperangkap senyap, cuma dia di kulit kanvas.

Tuan, kuburmu kenapa lagi musti kami gali?

Bila hidupmu kembali di masa kacau balau ini

hanya membuat sesal telah kau selempangkan

semangat: gamang di kanan, tangis di kiri.

Barisan kini tak tentu tuju. Kepercayaan tumpas,

mengabu, mendebu. MAJU. Tapi, kemanakah MAJU?

Umur pun tak lunas, tak terbayar seharga ajal.

Kami telah mati, berkali-mati, sebelum berarti.

Nyala enggan negeri, antara padam dan habis api.

2. Kita: Aku dan Kamu!

Tidak. Tak akan pernah sampai,

mungkin telah lama itu berlalu.

Tidak waktuku, tidak juga waktumu.

Aku mau kita ada yang merayu,

dia yang bilang, Tuan-tuan,

jeratkan aku di haluan hatimu.

Diakah itu? Tidak. Aku tak tahu.

Aku makin rindu sedu sedan itu.

Walau lama, walau jauh terbuang,

kita tak sejalang, tak sebinatang.

Takluk bahaya bisa dan cuka luka.

Makin berlari, makin nyebar perih,

tapi sepori terbiar, tak akan memedih.

Waktu kau minta waktu pada waktu

kau bilang mau hidup seribu dan seribu

dan seribu tahun lagi…

Ha ha ha! Aku yang waktu itu tak peduli.

3. Ajalmu Jauh di Pulau

Angin, air, pulau, kau, dan jauh pacarmu

Terang, laut, bulan, kau, dan manis cintamu

Perahu, jalan, ole-ole, kau, dan leher gadismu

Waktu, sampai, iseng, kau, dan rapuh tahunmu

Dia, peluk, pangku. Aku, kau, dan sendiri ajalmu

4. Dengar Itu Gadis Menyanyi

Sambil jejaki tapak di pasir ia menyanyi

Ikut apa mau angin dan suara laut padu

Bagai ia memanggil lelaki pembajak hati

Ia tunda sampai ke nada akhir sendu lagu

Para pelaut menunggu, meninggikan cemas,

Si gadis kini berpeluk dengan pantai gelap

Malam mendesak senja, kelam teramat lekas

bergandeng dengan bayang, lagu belum senyap

Siapa peluk pelabuhan? Gandeng tambatan?

Perahu singgah, tak pedulikan camar berpekikan

Itu lagu kini untuk gelap saja dinyanyikan

Para pelaut karam dalam kedalaman kecemasan

Di pantai itu nanti pagi tak ada jejak lagi

Nyanyi dan sisa lagu disapu ombak habis

Tapi, jangan kira surya tak pernah kembali

Ia hanya buta tuli dari lambai segala tangis

5. Nisan yang Lain

Engkau, benar engkau. Kematian kan

datang sendiri, ia asah belati lalu

tikam ke kalbu. Pedih memadui perih.

Apabila menangkis, itu belati sudah

sampai di leher, tersembelihlah kau!

Apabila meronta, itu belati sudah

datang ke jantung: ruang jantung!

Apa yang kita tahu, engkau tahu? Bubuk debu,

terembus ke muka, mengotorkan mata,

mengelabukan airmata, dan kita cuma

raja atas duka, mahaduka, pada rapuh

tahta, usia tak jua menabalkan kita.

6. Di Luar Dada Kereta

Kau kereta, tidak bawa siapa-siapa,

mengejar waktu yang makin berjarak

Segalanya menjauh, nama-nama kota,

kilometer yang tak terangka angka

Di jendela kau cuma bisa kenali senja,

malam masam, sinar bulan yang enggan,

singsing pagi, matahari tak lagi berarti.

Aku, cuma penumpang amat gelap, tak

berkarcis tak bertuju: tak tahu sejak

bila, telah buta mulut, telah bisu mata

Menyanyat diri, duga kini: Ini kereta

apa di sini juga sekubur sehidup umur?

7. Sudah Setajam Pedang

Kami masuk ke malam, duduk di gardu,

menjaga daerah mati, samakan saja

bersamamu atau tidak bersamamu

Bukan mau bilang: aku berani hidup,

asah pandang, sudah setajam pedang

Tak susah impikan merdeka, tetapi

kepastian itu bintang redup cuma!

Ya, sejak itu, waktu jalan. Tapi

jangankan nasib waktu, nasib sendiri

pun kami kini tak ada yang bisa tahu.

8. Amsal Lain Penghidupan

Memang, Kawan, tak setimbang tak berimbang

gelung gelombang dari maha lautan datang,

tak terhadang ladang dibentang pagi tenang.

Memang, Kawan, hidup cuma pematang, kaki

petani telanjang, meniti petang pulang,

telah ia beri pupuk pada harap dan bujuk.

Tapi, Kawan, tak ada yang sia-sia ketika

di sumur yang tak berpantun dengan umur,

petani mandi sendiri membasuh lumur lumpur.

9. Sajak yang juga Sia-sia

Sajak yang sia-sia, tak kan kutuliskan lagi

Tentang kau yang datang pada penghabisan kali

Tak bermetafora warna kembang: mawar dan melati

Sajak yang sia-sia, yaitu padanya kita saling

Menimbang cinta, dan akhirnya membimbangkannya,

Pada sajak yang sia-sia, hati berjeruji besi

Dikurung dan mengurung sepi, ‘nunggu vonis mati

10. Sajak yang Tak Putih

Kenapa juga kita mesti teringat pada mati?

Langit kenari, tujuh warna dibelah pelangi

Basah rambut wangi tubuh dibasuh hujan tadi

Aku minta pandangmu saja, mata menyatu hati

Kenapa masih kita mesti menyanyi berdoa?

Tanganmu tanganku menutup luka menganga

Pelangi tak sempat tanya: itu merah apa?

Langit tiba-tiba telah pula menutup mata

Tadi senja mau tiraikan kelambu telus sutra

Belum kita rebahkan lelah sepasang koyak ia

Kau tarik aku, aku tarik kau, kita telah sama:

Ini seperti tarian akhir, sebelum Mati tiba…

11. Tak Ada yang Berhenti di Sini

Mana mereka yang mau tuak berkendi-kendi?

Cuma seregu pengecut dan badut lalu tadi…

Pemeta gadungan dan tukang sirkus tepi jalan

Para pelayan perempuan minta lekas pulang,

Menghapus gumpal gincu di sudut-sudut bibir…

Tak tahu ada Mati mengulur tangan ke leher,

Tak singgah di ruang berbaris botol tuak,

Cuma penyair pinggir, sembunyi di larik sajak!

Mana mereka yang mau tuak berkendi-kendi?

12. Keris Berkarat

Di ranjang, di ranjang, ini pergumulan panjang

aku sudah terlempar dari mimpi dibanting bayang

Bulan kacau, terang kerontang, bantal koyak,

tadi kutikam keris, kukira dadamu yang kuiris!

Bulan kacau, cahaya bertukar redup ke kerlip,

ini di sepuluh jariku darah siapa melumuri?

Keris tak ada lagi, cuma serbuk karat menyeri di

enam, tujuh, sembilan luka di punggung di dada…

13. Amsal Lain Penghidupan

Memang, tak setimbang dan tak berimbang

gelung gelombang dari maha lautan datang,

tak terhadang ladang dibentang pagi tenang.

Memang,  hidup cuma pematang, kaki

petani telanjang, meniti petang pulang,

telah ia beri pupuk pada harap dan bujuk.

Tapi,  tak ada yang sia-sia ketika

di sumur yang tak berpantun dengan umur,

petani mandi sendiri membasuh lumur lumpur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses